Jumat, 15 Februari 2013

tuhan, alam dan manusia

Pandangan Islam Tentang Tuhan, Alam dan Manusia

PENDAHULUAN
Islam sebagai suatu tatanan beragama yang membahas tentang hubungan dengan Tuhan, Alam dan Manusia memiliki sudut pandang yang sangat sempurnya, realistis dan dapat diterima oleh siapapun. Pandangan Islam tentang tuhan menggambarkan bagaimana keagungan sang pencipta, adanya keagungan itu menambah manusia semakin beriman kepadaNya, semakin mengagungkanNya dan semakin mendekatkan diri kepadanya. Manusia nampak kecil jika dibandingkan dengan Allah yang menciptakan jagad raya ini.
Alam semesta diciptakan untuk manusia, untuk dipelajari dan ditakhlukan, terlebih manusia sebagai khalifah fil ardh untuk mengelola salah satu bagian dari alam semesta yaitu bumi, dengan mempelajari bumi dan apa saja yang ada di sekitarnya maka rahasia kebesaran Allah akan semakin terungkap.
Al Quran sudah jauh-jauh hari memberitahukan manusia bahwa terdapat bermacam kebesaran Allah dalam setiap penciptaannya, baik dalam penciptaan manusia, hewan tumbuhan dan semua yang ada di antara langit dan bumi, alam semesta yang begitu luas dan komplek dengan tatanan yang teratur dan rapi tanpa ada cacat sedikitpun. Penciptaan alam sebag.ai sarana dan prasarana bagi manusia untuk beribadah kepada Tuhan yang telah menciptakan alam dan bumi ini dengan penuh keteraturan.
Inilah yang akan dibahas dalam makalah ini, bagaimana Islam memandang Tuhan, Alam dan Manuisa.


PEMBAHASAN
A.    Pandangan Islam Tentang Tuhan
Istilah Tuhan mengalami berbagai bentuk sebutan terminology yang berbeda-beda. Ada yang menyebut God, Yang Maha Kuasa, Murbaning Damudi,Sah Yang Widi dan lain sebagainya, merupakan bentuk ekspresi symbol budaya yang berbeda pula. Berbagai macam sebutan yang berbeda  itu juga menunjukkan adanya cara pandang terhadap suatu kekuatan gaib, yang sering kali juga menimbulkan aspek perilaku keberagamaan manusia yang berbeda. Dalam konteks Islam, istilah Tuhan dipahami sebagai Allah, yang berasal dari bahasa Arab. Siapakah Allah? Dan bagaimana wujudnya? Menjadi pertanyaan dengan landasan aqli yang ujung jawabannya tidak ada batas akhirnya. Dalam dalil naqli pun tidak ditemukan adanya kejelasan tentang wujud nyata yang sebenarnya. Dzat Tuhan dan assal-usul-Nya menjadi misteri yang belum dapat dipecahkan dengan logika spekulatif maupun logika pragmatis.[1]
Ketika Tuhan disebut-sebut dalam konteks pemikiran Isalam, kata itu bisa dipahami dari dua sudut pandang. Kita bisa memandang Tuhan sebagai Dia dala diri-Nya sendiri, dimana kita mengesampingkan kosmos, yakni segala sesuatu selain Tuhan. Ditlikdari sudut pandang ini, hampir semua pemikir muslim berkesimpulan bahwa Tuhan, tidak bisa diketahui, Dia tidak bisa dipahami. Ini mengantar kita pada perspektif keterbandingan Tuhan. Jika kita menyebut-nyebut kosmos dalam nada yang sama dengan Tuhan, maka kita pasti mempertimbangkan sejumlah hubungan yang terjalain antara Tuhan dan kosmos, hubungn ini diungkapkan secara verbal oleh nama-nama illahi. Dalam hal ini, kita bisa mengatakan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dari segenap makhluk-Nya yang dengan demikian, sekali lagi menegaskan keterbandingan-Nya. Atau, kita bisa juga mengatakan bahwa ada keserupaan tertentu yang bisa diamati. Atau, kita bisa mengambil kedua posisi itu sekaligus.[2]
Berbicara tentang Tuhan di dalam Islam jauh berbeda dengna agama lain, Islam mampu mengupas tuntas tentang Konsep ketuhanan, Hakikat, Esensi, Ketakterbandingan dan keserupaan, nama-nama tuhan.
1.      Konsep Tuhan dalam Islam
Konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bagi setiap agama. Dari konsep Tuhan inilah, kemudian dijabarkan konsep-konsep lain dalam agama, baik konsep tentang manusia, konsep tentang kenabian, konsep tentang wahyu, konsep tentang alam, dan sebagainya. Karena itu, setiap berbicara tentang ”agama”, maka mau tidak mau, yang pertama kali perlu dipahami adalah konsep Tuhannya.[3]
Sebagaimana konsep Islamic worldview yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Naquib al-Attas juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, konsep tuhan dalam islam adalah Allah yang maha Esa, syahadat “Laa ilaaha illaallah” yang berarti tidak ada sesembahan kecuali Allah. Konsep inilah yang membedakan dengan agama-agama lain di bumi ini, islam dalam kitabnya mengatakan langsung bahwa tuhan yang berhak untuk diagungkan disembah itu hanyalah Allah saja, yang berarti meniadakan tuhan-tuhan selain Allah.

Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' (ﷲﺍ) Dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapiharus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaanayat-ayat dalam al-Quran. Dengan adanya ilmul qiraat  yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapimasalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapattentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengan demikian, nama Tuhan, yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepadaRasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebutnama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melaluial-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.[4]
Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat YangMaha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan kesempatan kepada terjadinya spekulasi akal dalam masalah ini. Tuhan orang Islam adalah jelas, yakni Allah, yang Satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dantidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.[5]    Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menulis bahwa ‘Allah’ adalah ‘al-ismu al-a’dhamu’. Allah juga merupakan nama yang khusus dan tidak ada sesuatu pun yang memiliki nama itu selain Allah Rabbul ‘Alamin. Bahkan, sejumlah ulama seperti Imam Syafii, al-Khithabi, Imam Haramain,Imam Ghazali, dan sebagainya menyatakan, bahwa lafaz Allah adalah isim jamid, dantidak memiliki akar kata. Menurut para ulama ini, kata Allah bukan ‘musytaq’(turunan dari kata asal). Dan syahadat Islam pun begitu jelas: " La ilaha illallah, Muhammadur  Rasulullah"  Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah". Syahadat Islam ini juga bersifat final dan tidak mengalami perubahan sejak zaman Rasulullah saw sampai Hari Kiamat. Kaum Muslim di seluruh dunia  dengan latar  belakang budaya dan bahasa yang berbeda  juga menyebut dan mengucapkan namaAllah dengan cara yang sama. Karena itu, umat Islam praktis tidak mengalami perbedaan yang mendasar dalam masalah konsep 'Tuhan'. [6]
2.      Hakekat Tuhan
Keberadaan Tuhan berada dalam persepsi sesuai dengan yang dipersepsikan. Dalam setiap agama diajarkan tentang Tuhan sebagai suatu prinsip dasar ajaran agama. Apakah masing-masing agama mempunyai tuhan sendiri-sendiri. Dengan demikian, jika masing-masing agama punya Tuhan sebagaimana banyaknya agama-agama terjadi benturan antar Tuhan yang dipersepsikan terjadi adu argument antar Tuhan yang paling benar. Islam member isyarat bahwa jika di dunia ini ada banyak Tuhan pasti akan terjadi kerusakan di bumi dan di langit yang diakibatkan peperangan antar pemuja-pemuja Tuhan yang dipersepsikan penganut agama.[7] Al Quran surat al-Anbiya’ ayat 22; Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan.[8]
Tuhan adalah zat yang menentukan tujuan dan membuat alam ini beredar dan beredar kea rah tujuan tertentu, Alam sendiri tidak bdapat menentukan tujuan tersebut. Yang menentukannya haruslah suatu at yang lebih tinggi dari alam itu sendiri, yakni Allah.
Oleh Karena itu tidak ada hidup dan kehidupan di luar Tuhan serta tidak ada ruang dan waktu di luar Tuhan, hidup dan kehidupan pada hakikatnya hanya ada dalam Tuhan. Demikian halnya ruang dan waktu hanya ada dalam ruang dan waktu Tuhan. Tidak ada bukti dan tidak ada satu pun fakta yang menunjukkan keterlibatan manusia dalam menciptakan bumi, menata bintang-bintang dan mengatur peredaran bulan dan matahari. Akan tetapi, sebaliknya bahwa manusia sepenuhnya kehidupannya tergantung pada bumi serta berada dalam tata ruang langit dan bumi serta hidup yang terbatas pada peredaran bulan dan matahari. Dalam bahasa agama manusia hidup dalam kubangan Tuhan, datang dan akan kembali kepada-Nya.[9] Surat al Baqarah ayat 155
Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucap “Sesungguhnya kami milik Allah dan akan kembali kepada Allah”[10]
3.      Esensi Tuhan
Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui oleh manusia secara indrawi, kenyataan bahwa Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar tawhid:”Tidak ada yang hakiki selain Zat Maha Hakiki”. Karena Tuhan secara mutlak dan tak terbatas bener-benar Zat maha Hakiki. Realitas Ilahi berada jauh di luar pemahaman realitas makhluk. Zat Maha mutlak tidak bisa dicakup oleh yang relatif.[11]
Karena Tuhan tidak bisa diketahui oleh siappapun, maka nabi Muhammad melarang oarng-orang beriman untuk memikirkan tuhan. Ia bersabda: “Berpikirlah tentang ciptaan Tuhan dan jangan berpikir tentang Zat Tuhan”. Zat Tuhan tidak mempunyai nama, karena Zat itu bukanlah lokus efek dan bukan pula diketahui oleh siapa pun. Tidak ada nama yang menunjukkan yang terlepas dari hubungan dan bukan pula dengan pengukuhan. Nama-nama hanya untuk mengetahui Zat Tuhan dilarang bagi siapa pun selain Allah karena tidak ada yang mengetahui Allah kecuali allah sendiri.[12]
Jika demikian, bagaimana mungkin kita dapat mengetahui, mendekati, dan mencintai Tuhan yang tidak diketahui. Bagaimana mungkin Tuhan yang sama sekali berbeda dengan alam dan manusia dapat hadir dalam alam dan manusia. Tetapi Tuhan bisa dicintai bukan dipikirkan. Dengan cinta tuhan dapat dihampiri dan dipegang akan tetapi tidak bisa dipikirkan. Tuhan bukan untuk dipikirkan dengan akal akan tetapi untuk dicintai dan dirasakan dengan kalbu. Karena indera dan intelektual manusia tidak mampu mencapai Tuhan.[13]
Semua hamba yang percaya kepada Tuhan tentu saja ingin mencintai Tuhan. Cinta hamba kepada tuhan pasti akan dibalas. Tuhan mencintai hamba yang mencintai-Nya. Jika hamba mencintai Tuhan, ia harus mengikuti Tuhan dan panutan yang diutus-nya. Cinta vertical antara hamba dan Tuhannya tidak akan terwujud jika tidak disertai dengan cinta horizontal antra sang hamba dan sesamanya.[14]
B.     Pandangan Islam tentang Alam
Alam diciptakan Tuhan hakekatnya adalah untuk menjadi sarana dan prasarana manusia untuk mencapai tujuan akhir. Manusia, dalam al Quran adalah makhluk yang dipercaya Tuhan sebagai pemegang hak pengelola (khalifah) alam. Sarana ala mini dipergunakan manusia untuk mengasah dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Bersamaan diciptakannya alam,manusia dapat belajar dari fenomena alam sehingga memunculkan berbagai macam nama-nama alam (sains). Tuhan menciptakan alam mempunyai peran dan tujuan sebagai tanda kebesaran kekuasaan-Nya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa alam mempunyai peran petunjuk adanya Tuhan.
1.      Penciptaan Alam
Proses penciptaan alam oleh Tuhan dapat ditemukan dalam ayat-ayat al-Quran walaupun tidak ditemukan secara berurutan, namun disajikan dalam riwayat yang saling sambung-menyambung yang berada dalam beberapa tempat dalam al-Quran yang menunjukkan aspek-aspek tertentu penciptaan dan memberikan perincian mengenai kejadian-kejadian secara berurutan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan gambaran tentang penciptaan alam semesta berurutan kita harus mengumpulkan dari berbagai surat yang terpisah dalam beberapa ayat.
Pengabaran tentang penciptaan alam ini menunjukkan bahwa Allah ingin memperlihatkan kebesaran-Nya. Allah memberikan isyarat ilmu pengetahuan yang luar biasa besar dan manusia diperintahkan untuk mengembangkannya. Dan penciptaan alam ini hanya untuk waktu sementara saja dan setiap kali Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat sementara, Dia menciptakannya secara berpasangan, sebagai dua benda yang dikaitkan satu sama lain, atau berlawanan satu sama lain. Begitu juga Dia cipakan sifat-sifat dari makhluk-makhlukny-Nya dengan cara yang saling berkaitan atau berlawanan satu sama lain sehingga mereka tidak akan dengan sifat-sifat Pencipta. Keesaan dan ketunggalan-Nya menjadi termanifestasi di hadapan makhluk-makhluk-Nya; keagungannya tanpa kehinaan, kekuasaan-Nya tanpa ketidak mampuan, kekuatan-Nya tanpa kelemahan, pengetahuan-Nya tanpa kebodohan, kehidupan-Nya tanpa kematian, kegembiraan-Nya tanpa kesedihan, penghidupan-Nya tanpa pemusnahan.
Al Quran surat ke 21 ayat 30 yang artinya: "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu  keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"
Dalam surat 41 ayat 11, kita dapatkan sebagai ayat berikut artinya: "Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan dia (langit itu masih merupakan) asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu keduanya menurut perintah Ku dengan suka hati atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati."
Surat as-Sajadah ayat 5, “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, Kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Tiga ayat di atas memberi gambaran bagaimana Allah mengabarkan kepada manusia tentang penciptaan langit dan alam semesta ini. Sebagai wujud kebesaran-Nya dan ketunggalanya sebagai yang maha segalanya.

2.      Alam sebagai isyarat Ilmu
  Islam mengajak manusia untuk menggunakan kemampuan akalnya dalam menyikapi berbagai kejadian alamiah dialam semesta. Apabila kita mengarahkan pandangan ke lingkungan di sekeliling kita,niscaya kita menemukan berbagai fenomina yang membuktikan keberadaan sang Pencipta. Islam menantang seluruh manusia untuk memikirkan itu semua hingga mereka dapat menerima kebenaran tentang keberadaan Sang Khaliq.
Seolah tak pernah berhenti kita menemukan hukum yang memperlihatkan adanya suatu keteraturan dialam semesta ini. Kemudian kita memanfaatkan hukum-hukum tersebut itu untuk memuaskan kebutuhan kita. Namun demikian,tidak sedikit orang keliru memahami siapa sesungguhnya yang menetapkan hukum tersebut. Apakah hukum-hukum itu yang menciptakan alam semesta,ataukah alam semesta yang menciptakan keteraturan tersebut?
Islam melalui al Quran menjelaskan bagaimana keteraturan alam semesta ini yang terus mengembang, dan manusia diperintahkan untuk membaca tanda-tanda itu, sebagaimana sebuah ayat yang menjelaskan tentang bagaimana, langt dibentangkan dan ditinggikan, serta penciptaan manusia.
Selain itu, Islam juga member isyarat ilmu pengetahuan bahwasanya manusia mampu menembus langit dan bumi, lagit dan bumi mampu ditempus dengan kekuatan (ilmu), Surat ar-Rahman ayat 33: “Wahai sekalian Jin dan Manusia sesungguhnya kamu kalian mampu untuk menembus langit dan bumi, tetapi ingat kalian tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu)”.Dalam perjalanannya manusia terus mengembangkan ilmu,dengan berbagai macam riset dan ditemukanlah bermacam-macam teori sehingga dari situ manusia membuat pesawat yang mampu membwa keluar bumi, sebagaimana janji Allah hal itu terjadi, dan benar manusia pertama kalinya mampu menginjakkan kakinya di bulan.
Penciptaan unta, sebagaimana Allah perintahkan untuk memmperhatikannya,
Surat al-Ghaasiyah ayat 17: "Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan."
Jika kita amati bagaimana unta diciptakan, kita akan menyaksikan bahwa setiap bagian terkecil darinya adalah keajaiban penciptaan. Yang sangat dibutuhkan pada kondisi panas membakar di gurun adalah minum, tapi sulit untuk menemukan air di sini. Menemukan sesuatu yang dapat dimakan di hamparan pasir tak bertepi juga tampak mustahil. Jadi, binatang yang hidup di sini harus mampu menahan lapar dan haus, dan unta telah diciptakan dengan kemampuan ini.
Unta dapat bertahan hidup hingga delapan hari pada suhu lima puluh derajat tanpa makan atau minum. Ketika unta yang mampu berjalan tanpa minum dalam waktu lama ini menemukan sumber air, ia akan menyimpannya. Unta mampu meminum air sebanyak sepertiga berat badannya dalam waktu sepuluh menit. Ini berarti seratus tiga puluh liter dalam sekali minum; dan tempat penyimpanannya adalah punuk unta. Sekitar empat puluh kilogram lemak tersimpan di sini. Hal ini menjadikan unta mampu berjalan berhari-hari di gurun pasir tanpa makan apapun.
Kebanyakan makanan di gurun pasir adalah kering dan berduri. Namun sistem pencernaan pada unta telah diciptakan sesuai dengan kondisi yang sulit ini. Gigi dan mulut binatang ini telah dirancang untuk memungkinkannya memakan duri tajam dengan mudah.
Perutnya memiliki disain khusus tersendiri sehingga cukup kuat untuk mencerna hampir semua tumbuhan di gurun pasir. Angin gurun yang muncul tiba-tiba biasanya menjadi pertanda kedatangan badai pasir. Butiran pasir menyesakkan nafas dan membutakan mata. Tapi, Allah telah menciptakan sistem perlindungan khusus pada unta sehingga ia mampu bertahan terhadap kondisi sulit ini. Kelopak mata unta melindungi matanya dari dari debu dan butiran pasir. Namun, kelopak mata ini juga transparan atau tembus cahaya, sehingga unta tetap dapat melihat meskipun dengan mata tertutup. Bulu matanya yang panjang dan tebal khusus diciptakan untuk mencegah masuknya debu ke dalam mata. Terdapat pula disain khusus pada hidung unta. Ketika badai pasir menerpa, ia menutup hidungnya dengan penutup khusus.
Salah satu bahaya terbesar bagi kendaraan yang berjalan di gurun pasir adalah terperosok ke dalam pasir. Tapi ini tidak terjadi pada unta, sekalipun ia membawa muatan seberat ratusan kilogram, karena kakinya diciptakan khusus untuk berjalan di atas pasir. Telapak kaki yang lebar menahannya dari tenggelam ke dalam pasir, dan berfungsi seperti pada sepatu salju. Kaki yang panjang menjauhkan tubuhnya dari permukaan pasir yang panas membakar di bawahnya. Tubuh unta tertutupi oleh rambut lebat dan tebal. Ini melindunginya dari sengatan sinar matahari dan suhu padang pasir yang dingin membeku setelah matahari terbenam. Beberapa bagian tubuhnya tertutupi sejumlah lapisan kulit pelindung yang tebal. Lapisan-lapisan tebal ini ditempatkan di bagian-bagian tertentu yang bersentuhan dengan permukaan tanah saat ia duduk di pasir yang amat panas. Ini mencegah kulit unta agar tidak terbakar. Lapisan tebal kulit ini tidaklah tumbuh dan terbentuk perlahan-lahan; tapi unta memang terlahir demikian. Disain khusus ini memperlihatkan kesempurnaan penciptaan unta.Inilah ketika islam berbicara tentang alam semesta dan penciptaannya.

C.     Pandangan Islam tentang Manusia
Manusia adalah salah satu makhluk yang paling sempurna di dalam penciptaannya (fii ahsani taqwim), memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Manusia diberikan akal dan nafsu yang akan menentukan perjalanan hidup di dunia, akal untuk membedakan mana yang benar dan yang salah dan nafsu keinginan untuk berbuat baik dan jahat. Terlebih manusia diciptakan dengan maksud beribadah kepada Allah. Dan bertugas sebagai khalifahj di muka bumi ini. Dan manusia sebagai objek kajian yang sangat misterius, khususnya aspek-aspek internal yang abstrak menyangkut psikis dan spiritual.[15]
1.      Penciptaan manusia menurut agama
Keterangan asal usul manusia dalam pandangan ajaran Islam tentunya tidak lepas dari wahyu yang terekam dalam al-Quran dan al-Hadis. Informasi yang didapatkan dalam al-Quran bahwa proses penciptaan manusia mengalami beberapa tahap. Yang pertama  tahap pensabdaan (ucapan penciptaan) sebagai proses produksi manusia, dan yang kedua adalah proses reproduksi manusia.
Pertama Proses produksi, Dalam proses ini manusia terlebih dahulu Allah menawarkan kepada makhluk yang terlebih dahulu ada yaitu malaikat dan syaitan, ketika Allah hendak menciptakan makhluk yang bernama manusia untuk dijadikan khalifah di muka bumi[16], dalam ayat menunjukkan bahwa Adam adalah manusia yang pertama diciptakan, proses penciptaan Adam diawali dengan sabda Tuhan dengan kekuatan penciptaan  dengn sabda “Jadilah maka jadi”.[17]
Dalam al-Quran tidak ada keterangan secara detail penciptaan manusia yang bernama Adam dengan cara enetik atau proses reproduksi manusia seperti lazimnya kita ketahui sekarang. Keterangan ini menunjukkan adanya kekuasaan tuhan di luar kemampuan manusia dan makhluk-Nya. Sifat Qadar dan Iradah Tuhan menjadikan kemampuan yang Maha di atas Segala yang Maha.[18]
Perlu diingat sebelum Allah menciptakan Adam,Allah sudah menyiapkan sarana dan prasarana yang akan diperlukan Adam. Yaitu langit dan bumi beserta isinya. Yang kemudian manusia diperintahkan menjadi “khalifah” untuk mengatur, mengelola dan menjaga alam. Fungsi dan peran lain dari manusia adalah untuk menciptakan sains berdasarkan fenomena alam. Ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi dan kapasitas individu yang tidak dimiliki makhluk lain.
Kedua Proses reproduksi, dalam proses ini dapat dipahami sebagai proses penciptaan ulang manusia setelah Adam, setelah Tuhan menciptakan Adam Ia menciptakan manusia yang bernama Hawa yang berjenis perempuan sebagai pasangannya. Hawa mempunyai peran sebagai pendamping Adam dan juga menjadi sarana untuk menempatkan benih manusia dari Adam ke Hawa. Dari sinilah kemudianadanya manusia yang direproduksi secara turun temurun. Al-Quran sesungguhnya memberikan keterangan reproduksi manusia yang sangat mengesankan, dengan catatan mapu memahami dan menterjemahkan secara ilmiah, inilah satu-satunya kitab suci agama yang menjelaskan proses reproduksi manusia secara ilmiah. Dari air mani (nutfah) yng menempel (‘alaqah) kemudian menjadi daging (mudqah), kemudian menjadi tulang belulang yang dibungkus dengan daging (lahm) dan pada tahap ini mulai dibentuk sesuai dengan perkembangan selanjutnya.[19]
2.      Manusia Untuk Beribadah Kepada Tuhan
Tugas hidup manusia adalah beribadah, melaksanakan ibadah, mengabdikan diri jiwa dan raga semata-mata hanya kepada Allah[20] “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.[21]  Ibadah dalam arti luas ialah setiap sikap, pandangan, ucapan dan perbuatan yang betitik tolak ikhlas dan bertujuan vertical mencari keridhaan Allah, dan bertujuan horizontal untuk kebahagiaan dunia dan akherat disamping itu juga untuk menjadi rahmat bagi segenap manusia dan seluruh alam semesta disekelilingnya.[22]
Manusia memiliki potensi (daya kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah. Seperti dijelaskan dalam al-Qur’a:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, [23]
Dengan pengakuan pada ayat diatas itu, sesungguhnya sejak awal, dari tempat asanya manusia telah mengakui Tuhan, telah bertuhan, berketuhanan. Pengakuan dari penyaksian bahwa Allah adalah Tuhan Ruh yang ditiupkan kedalam rahim wanita yang sedang mengandung manusia itu berarti manusia mengakui pula kekuasaan Allah.
3.      Manusia sebgai Khalifah
Fungsi asasi manusia adalah khalifah (wakil atau deputy) Allah di atas alam ini untuk menerjemahkan, menjabarkan dan membumikan (merealisasikan, mengimplementasikan, mengaplikasikan dan mengaktualisasikan) siafat-sifat Allah yang serba Maha itu dalam batas-batas kamanusiaan (dalam batas kemampuan manusia) dalam persada dataran kenyataan.[24]
Manusia dijadikan khalifah karena memiliki berberapa potensi, menurut agama dan sains sama-sama mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang unik. Secara fisik (jasmani) dan kejiwaan (rukhani) yang sama-sama mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan kompleks. Perbedaannya adalah agama mengakui adanya kekuatan yang menghidupkan manusia yaitu ruh, sedangkan sains belum dapat menjelaskan adanya dimensi ruh, bahkan tidak mempercayainya karena ruh tidak dapat dijelaskan secara fisik.[25]
Manusia mempunyai akal dan isnting yang dengannya berbagai ilmu pengetahuan lahir deng melihat sesuatu yang nyata disukung beberapa ajaran agama, yang menjadikan manusia memang pantas untuk mengatur dan mengelola serta menjada bumi dan ala mini. Kahlifah fiil Ardh maksudnya manusia diberi kewenangan oleh Allah mengatur apa yang ada disekitarnya.

PENUTUP
Islam terbukti memang agama yang sangat luas dan detail pembahasanya, Islam membahas segala aspek kehidpan. Ketika islam membahas tentang Tuhan maka nilai kebesaran tuhanlah yang dimunculkan, dengan maksud bahwa manusia akan semakin beriman dan tunduk patuh kepada-Nya. Ketika islam berbicara tentang alam semesta menunjukkan bagaimana rahasia Allah tentang penciptaan-penciptaan apa yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya, serta ketika Islam berbicara tentang manusia maka manusia diperintahkan untuk belajar dan memahami apa yang ada di sekitarnya. Sehingga nampaklah bahwa manusia sesungguhnya mahluk yang lemah dan kecil, dengan menyadari hal itu dimaksudkan manusia semakin mengagungkan sang penciptnya.



DAFTAR PUSTAKA

Abu A’la Maududi,Prinsip-prinsip Islam,Riyadh.1976
Adian Husaini,Makalah Pandang Islam Tentang Tuhan
Ahmad Ali Riyadi,Filsafat Pendidikan Islam,Yogyakarta:Teras,2010.
Amin Abdullah,Dinamika Islam Kultur:Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer,Bandung:Mizan,2000.

Endang Saifudin Anshari,Reformulasi filsafat Pendidikan Islam,Semarang:Pustaka                                               Pelajar&IAIN Walisongo,1996.

Djamaludin Darwis,Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam,Semarang: Pustaka Pelajar&IAIN Walisongo,1996.

F.John Haugh, Perjumpaan Sains dan Agama,Dari Konflik ke Dialog,Penerj.Ahmad Baiquni, Bandung: Mizan, 2004.

Hasan Hanafi,Dari Akidah ke Revolusi,Jakarta: Paramadina,2003.

Moeslim Abdurrahman,Islam Transformatif,Jakarta: Pustaka Firdaus,1995.

Omar Muhammad Al-Thoumy,Falsafah pendidikan Islam,Jakarta:Bulan Bintang,1979.
Sachiko Murata,The Tao Of Islam, Bandung:Mizan,1998,Cet.VI.
M.Quraish Shihab,Membumikan Al Quaran,Bandung:Mizan,2007.


[1] Ahmad Ali Riyadi,Filsafat Pendidikan Islam,Penerbit Teras, Yogyakarta, 2010.hal.125
[2] Sachiko Murata,The Tao Of Islam, terjemahan, penerbit Mizan,Bandung, 1998.Ccet VI.hal.79
[3] Adian Husaini, Konsep Tuhan Dalam Islam, makalah.hal.3
[4] Adian Husaini,makalah Konsep Tuhan dalam Islam,hal.4
[5] al Quran surat al Ikhlas (112)
[6] Adian Husaini diambil dari makalah Konsep Tuhan dalam Islam,hal.4
[7] Ahmad Ali Riyadi,Filsafat Pendidikan Islam
[8] Lihat al Quran surat al-Anbiya’ ayat 22
[9] Ibid,hal.135
[10] Lihat Surat al Baqarah ayat 155
[11] Sachiko Murata,The Tao Of Islam,hal.80
[12] Ahmad Ali Riyadi,Filsafat Pendidikan Islam,hal.139
[13] Ibid,hal.141
[14] Ibid,hal.141
[15] Djamaludin Darwis,Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar&IAIN Walisongo,  Semarang,1996,hal.99
[16] Lihat Surat al-Baqarah ayat 30
[17] Lihat Surat Yaasin ayat 82
[18] Ahmad Ali Riyad,Filsafat Pendidikan Islam,hal.158
[19] Lihat Surat al-mukminun ayat 14
[20] Endang Saefudin Anshari,Reformulasi Filsafat Pendidikan Islam,hal.93
[21] Lihat surat adz-Dzariat
[22] Ibid,hal.93
[23] Lihat Surat al-A’raf ayat 172
[24] Cop.it,hal.94
[25] Ahmad Ali Riyadi,Filsafat Pendidikan Islam,hal.171

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar